Feeds:
Posts
Comments

Suku Inuit (juga disebut Eskimo) adalah sisa-sisa budaya “ pemburu-pengumpul” (hunter gatherer) yang mendiami daerah Kutub Utara, Alaska, Kanada dan Greenland. Mereka adalah bukti sejati ketangguhan, kemampuan adaptasi dan kecerdikan dari spesies manusia dengan gaya hidup yang unik. Mereka adalah lumbung  informasi  tentang kantung-kantung  ekologi manusia.

Weston Price, seorang dokter gigi dari Cleveland, terpesona dengan gigi mereka yang sangat rapi,  kesehatan yang secara keseluruhan sangat prima. Berikut adalah kutipan dari bukunya “Nutrition and Physical Degeneration”:

Dalam kehidupannya yang  primitip, suku ini  memberikan contoh keunggulan fisik dan kesempurnaan gigi yang tak pernah tersaingi oleh suku bangsa lain di masa lalu ataupun  sekarang …… kita juga sangat berkepentingan untuk mempelajari formula gizi mereka agar kita dapat belajar dari rahasia yang akan membantu kita , masyarakat modern yang beruntung ini yang sering disebut beradab , namun jika mungkin, menyediakan sarana untuk membantu dalam pelestarian mereka. “

Para pemburu Inuit, yang tangguh di udara dingin ini mengasup diet tradisional yang terdiri dari berbagai mamalia laut, ikan, mamalia darat  dan burung. Mereka menemukan beberapa alat yang sangat canggih, termasuk kayak, yang dasar rancangan tetap tidak berubah hingga hari ini. Kebanyakan kelompok  makan hampir tanpa makanan berasal dari tumbuhan. Makanan mereka berasal terutama dari lemak, sampai 75%, Hampir tidak ada kalori berasal dari karbohidrat. Anak-anak diberi ASI selama sekitar tiga tahun, dan makanan padat hampir sejak lahir. Seperti kelompok hunter gatherer yang lainnya, mereka bebas dari penyakit kronis saat hidup dengan gaya hidup tradisional, bahkan hingga usia tua.

Berikut adalah kutipan dari  Observations on the Western Eskimo and the Country they Inhabit ;  Catatan diambil selama dua tahun [1852 - 54] di Point Barrow, oleh   Dr John Simpson:

Orang-orang ini  [suku Inuit ] adalah tegap, berotot dan aktif, cenderung ramping tak kegendutan ataupun tak kelebihan berat badan, menyajikan penampilan yang nampak  jelas  sehat. Ekspresi wajah menampakkan humor. Dasar fisik dari kedua jenis kelamin nampak kuat. Panjang umur yang ekstrim bukannya tak dikenal , tetapi mereka tak mengindahkan jumlah tahun karena mereka tidak bisa menghitung umur mereka sendiri.

Hal yang sering saya dengar dengan diet  tinggi-lemak pada suku pemburu-pengumpul, adalah bahwa gerak badan lah yang  melindungi mereka dari kerusakan akibat  lemak. Suku Inuit dapat membantu kita mendapatkan dasar perdebatan ini. Berikut adalah kutipan dari Kanker, Penyakit Peradaban (1960, Vilhjalmur Stefánsson):

“Mereka pelahap makanan yang  besar, beberapa dari mereka, khususnya perempuan, makan setiap saat …” … Selama musim dingin perempuan Barrow ini jarang beringsut,  sedikit melakukan pekerjaan berat , namun mereka “lebih cenderung ramping daripada gemuk” [tanda kutip adalah dari antropolog Dr Yohanes Murdoch, dikutip oleh Stefánsson].

Argumen lain kadang-kadang saya dengar adalah bahwa Inuit secara genetik telah menyesuaikan diri `dengan diet tinggi lemak, padahal makanan yang sama akan membunuh orang Eropa. Hal ini tampaknya tidak demikian. Antropolog dan penjelajah Arktik Vilhjalmur Stefánsson menghabiskan beberapa tahun hidup dengan Inuit di awal abad 20. Dia dan rekan-rekan Eropa dan Amerika tumbuh dengan diet Inuit. Dokter-dokter  Amerika tidak begitu saja percaya,mereka mengolok sang penjelajah untuk hidup dengan diet lemak daging selama satu tahun, di bawah pengawasan dari American Medical Association. Sangat mengecewakan para dokter  ’, mereka tetap sehat, tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit kudis atau kekurangan gizi lainnya (JAMA 1929; 93:20-2). ( Beberapa lama setelah dia hanya makan daging saja sang penjelajah merasa tak kuat dan minta ditambah lemak dalam dietnya. –tambahan dari penyunting)

Namun hal lain yang menakjubkan tentang Inuit adalah struktur sosial mereka. Berikut adalah Dr John Murdoch lagi (dikutip dari Cancer, Disease of Civilization ):

Para wanita tampak berdiri di atas pondasi kesetaraan yang sempurna dengan laki-laki, baik dalam keluarga dan masyarakat. istri adalah teman abadi dan terpercaya dalam segala hal kecuali berburu, pendapat dia akan diminta dalam setiap tawar-menawar atau mengambil keputusan penting lainnya … Kasih sayang orang tua bagi anak-anak mereka adalah ekstrim, dan anak-anak tampaknya benar-benar pantas mendapatkannya . Mereka hampir tidak menunjukkan jejak kerewelan atau merajuk yang begitu umum di antara anak-anak yang beradab, dan meskipun memanjakan ke tingkat ekstrim sangat patuh. Hukuman jasmani tampaknya benar-benar tidak dikenal , dan anak-anak jarang ditegur atau dihukum dengan cara apapun.

Sayangnya, hari-hari itu sudah lama berlalu. Sejak suku Inuit mengadopsi diet makanan olahan yang modern, kesehatan dan struktur sosial suku Inuit telah memburuk secara dramatis. Kerusakan Ini terjadi pada hampir semua kelompok suku  saat Weston Price   berkunjung, dan kerusakan itu hampir terjadi pada semua suku sekarang.  Berikut catatan Price :

Dalam berbagai kelompok suku   yang tinggal di dataran Kuskokwin, ada 72 individu yang hidup secara eksklusif dengan makanan asli , pada  2.138 buah gigi hanya dua gigi atau 0,09 persen yang pernah diserang oleh kerusakan gigi. Di distrik ini ada delapan puluh satu orang telah diteliti  yang telah hidup  di bagian atau sebagian besar pada makanan modern, dan dari 2,254 gigi mereka, sebanyak  394 gigi, atau 13 persen telah diserang oleh karies gigi. Ini merupakan peningkatan karies gigi  sebanyak 144 lipat. Ketika orang Eskimo dewasa mengganti  makanan mereka dengan makanan modern … …, mereka sering mengalami pembusukan gigi yang sangat luas dan sangat menderita …. keadaan mereka sering menjadi tragis karena tidak ada dokter gigi di daerah ini.

Inuit modern juga menderita diabetes dan kelebihan berat badan. Ini telah dikaitkan dengan perubahan dalam makanan, terutama penggunaan gandum putih, gula dan minyak olahan .

Secara keseluruhan, gaya hidup yang dan diet yang dari Inuit memiliki banyak pelajaran pada kita.

  • Pertama, bahwa manusia mampu menjadi sehat sebagai karnivora.
  • Kedua, bahwa kita mampu berkembang pada diet tinggi lemak
  • Ketiga, bahwa kita mampu hidup dengan baik di lingkungan yang sangat keras dan beragam.
  • Keempat, bahwa pergeseran dari makanan alami menjadi makanan olahan, (bukan perubahan komposisi makronutrisi ), merupakan penyebab sebenarnya dari penyakit peradaban.

Diterjemahkan dari www.wholehealthsource.com

Sharman MJ, Kraemer WJ, Love DM, Avery NG, Gomez AL, Scheett TP, Volek JS.

Diet Rendah Karbo (ketogenic) , mempengaruhi secara positip penanda penyakit jantung pada pria dengan berat badan normal.
J Nutr 2002; 132: 1879-85

Laboratorium Kinerja Manusia, University of Connecticut, Storrs 06269-1110, USA.

Diet ini sangat rendah karbohidrat, tinggi lemak, cukup protein. sehingga disebut ketogenic. Diet ini populer akhir-akhir ini tetapi sedikit yang diketahui mengenai efek pada penanda Penyakit Jantung Koroner (PJK).

Studi ini meneliti efek diet ketogenic selama 6 pekan terhadap ada tidaknya PJK . Penanda PJK diukur pada sebelum dan setelah makan pada 20 orang dengan berat badan normal, laki-laki.

Karbo Protein Lemak

Diet biasa – 8 orang sebagai kontrol 47% 17% 32%

Diet tinggi lemak – 12 orang 8% 30% 61%

Duabelas makan lemak tinggi, 8 orang makan seperti biasa sebagai kontrol. Lipid darah, ,insulin, ukuran partikel LDL, LDL teroksidasi, sebelum makan dan trigliserit, insulin setelah mengasup makanan tinggi lemak diukur, untuk menentukan response makanan itu.

Hasilnya : Ada penurunan yang signifikan dalam serum TAG (-33% ) puasa , penurunan lipid darah setelah mengasup makanan tinggi lemak (lipemia postprandial) sebesar (-29%), dan penurunan konsentrasi serum insulin puasa (-34%) setelah orang itu mengkonsumsi makanan tinggi lemak. Serum total kolesterol, LDL kolesterol dan LDL-teroksidasi tidak terpengaruh dan HDL kolesterol cenderung meningkat dengan diet ketogenic ini (11,5%; P = 0,066).
Pada subyek yang berkecenderungan partikel LDL nya kecil, partikel LDL pola B, ada peningkatan yang signifikan dalam rata-rata diameter partikel LDL dan persentase LDL-1 setelah ketogenic diet. Tidak ada perubahan signifikan dalam lipid darah pada kelompok kontrol.

Studi ini adalah yang pertama mendokumentasikan efek diet ketogenic puasa dan postprandial terhadap penanda PJK yang independen terhadap penurunan berat badan.

Hasilnya menunjukkan bahwa, dalam jangka pendek ketogenic diet, tidak memiliki efek merugikan pada profil risiko PJK dan mungkin malah memperbaiki kelainan proses penumpukan lemak.

# KOMENTAR : Saat dengar diet tinggi lemak langsung terpikir kolesterol pasti naik, apalagi lemaknya 61% dari kebutuhan kalori harian.Namun, ……..justru ternyata sebaliknya.

Berikut ini ringkasan hasil penelitian mereka :
# Lemak darah (trigliserit) turun – 33 %
# Tingkat lipid darah (LDL) setelah asupan lemak turun -29%
# Insulin setelah makan turun – 34 % (Postprandial insulin)
# HDL naik 11,5%
# Total kolesterol tidak berubah

BlogCatalog

Health Blogs - Blog Catalog Blog Directory

BlogCatalog

Health Blogs - BlogCatalog Blog Directory

Lemak Kolesterol , Framingham Heart Study

The Framingham Heart Study adalah kajian tentang lemak , kolesterol dan penyakit jantung yang sangat dihormati dan sangat berpengaruh. Studi ini didirikan tahun 1948 oleh Harvard Medical School di kota Framingham, hingga kini studi tentang lemak, kolesterol dan penyakit jantung masih terus berjalan.

Mereka yakin sekali bahwa kolesterol darah berhubungan dengan asupan lemak dan kolesterol. Untuk membuktikan ini mereka merekrut orang-orang di sekitar Framingham untuk di amati.Dan inilah hasil kajian mereka.

The Framingham Heart Study

Asupan Kolesterol dan Kolesterol Darah

Asupan Kolesterol Rata 2

Kolesterol Darah

Asupan Kolesterol    di Bawah Rata2

Asupan Kolesterol      di Atas Rata2

mg/hari

mmol/l

mmol/l

Pria

704 ± 220.9

6.16

6.16

Wanita

492 ± 170.0

6.37

6.26

Pada Tabel di atas, peserta studi di bagi 3,

  • yang asupan kolesterol rata-rata,
  • yang asupan kolesterol di bawah rata-rata dan
  • yang asupan di atas rata-rata.

Ternyata, pria yang mengasup kolesterol di atas rata-rata dibanding dengan yang mengasup kolesterol di bawah rata-rata,  kolesterol darahnya sama saja.

Perhatikan juga rentang rata-rata kolesterol  sangat lebar, melebihi angka anjuran 300 mg per hari.

Pada wanita, yang mengasup kolesterol di atas rata-rata malah kolesterol darahnya lebih rendah dari pada yang mengasup kolesterol di bawah rata-rata.

Setelah berkutat selama 22 tahun, peneliti kolesterol di Framingham terpaksa mengakui bahwa:

Pendek kata, tak ada hubungan antara diet  dengan berkembangnya Penyakit Jantung Koroner dalam kajian kelompok ini”

Sebagai penutup kita kutip Direktur Framingham Study, William Castelli pada tahun 1992:

Di Framingham,Massachusetts, semakin banyak lemak jenuh yang diasup, semakin banyak kolesterol yang diasup, semakin rendah serum kolesterol orang itu….

……..kami temukan bahwa seseorang yang mengasup kolesterol terbanyak, mengasup lemak jenuh terbanyak, mengasup kalori terbanyak, berat badannya ter rendah, dan aktivitas fisiknya tertinggi.

Uups……apa yang salah disini?

Ini ceritera tentang Gascony, Perancis Selatan, tanah airnya The Three Musketeer. Mereka makan lemak angsa dan bebek sebagai ganti butter. Camilan mereka adalah kulit bebek goreng .  Gascony dikenal sebagai daerah Perancis yang memakan lemak paling banyak.

Sementara Perancis yang dikenal sebagai peng asup lemak terbanyak, namun kematian karena sakit jantungnya terendah. Lebih rendah dari Amerika.

The French Paradox kata orang. Suatu keanehan.  Namun  Gascony mengasup lemak lebih banyak lagi dari rata- rata Perancis dan tingkat kematian karena PJK juga rendah. Keanehan kah?

“We eat more fat in Gascony than anyplace else, but we live the longest,” demikian ujar mereka.

Dibawah ini adalah tingkat kematian karena PJK di Amerika,Perancis dan Gascony.

Heart Disease Rates

  • United States:                    315    per 100,000
  • France:                              145    per 100,000
  • Gascony:                             80    per 100,000

By :Goodgrade

KLUB ANTI PENYAKIT JANTUNG KORONER

Sebuah percobaaan diet rendah kolesterol, telah menewaskan 8 pengikutnya

Tahun 1957, sebuah penelitian dinamakan The Anti Coronary Club Project dipimpin oleh Dr Norman Jolliffe, direktur  New York City Health Department.

Dr Jolliffe adalah pesohor dibidang diet penurunan berat badan. Dia memulai “Anti Coronary Club” dengan merekrut 814 lelaki berumur antara 40 hingga 50. Semuanya bebas dari penyakit jantung.

Mereka diminta menjalani ”Prudent Diet”. Diet bagi mereka adalah  rendah kolesterol, mengasup margarine, corn oil dan cereal, chicken dan ikan.

Sedang grup kontrol sebanyak 463 orang dengan usia daan status kesehatan sama menjalani diet yang normal. Normal pengertiannya tinggi kolesterol, “eggs for breakfast and had meat three times a day”.

Hasil penelitian diumumkan pada tahun 1966 pada majalah The Journal of American Medical Association. Mereka yang mengikuti “Prudent Diet” kolesterolnya tercatat 220 sedangkan yang mengikuti diet normal kolesterolnya 250. Pengikut “Prudent Diet” turun kolesterolnya. Pengikut diet tinggi kolesterol, kolesterol darahnya naik.Namun studi ini harus mencatat 8 orang tewas karena sakit jantung pada mereka yang mengikuti ”Prudent Diet” yang rendah kolesterol. Sedangkan mereka yang mengikuti “eggs for breakfast and had meat three times a day” mencatat nihil korban sakit jantungnya.

Sementara itu penggagas ”Prudent Diet” itu sendiri, Dr Norman Jolliffe, tewas karena sakit jantung pada umur 59 tahun sebelum penelitian ini usai. Dia adalah seorang penderita diabetes yang harus duduk di kursi rodanya.

”He succumbed in 1961 from a vascular thrombosis, although the obituaries listed the cause of death as complications from diabetes.”

THE FRENCH PARADOX

Orang Perancis mempunyai asupan lemak yang tinggi, namun tingkat kematian karena sakit jantung sangat rendah. Jauh lebih rendah dari kematian karena sakit jantungnya orang Amerika.

Grafik di bawah ini menggambarkan hasil studi Ancel Keys yang menyatakan semakin banyak suatu penduduk negara mengasup lemak maka semakin tinggi tingkat kematian karena PJK (Penyakit Jantung Koroner). Dari studi inilah “Diet Heart Hypothesis” mulai mendapatkan momentum. Saat itu Ancel Keys adalah sarjana yang ternama. Omongannya sangat didengar oleh pemerintah Amerika.

Grafik lemak jantung Perancis

Namun Finlandia dan Perancis adalah dua negara yang tidak dimasukkan oleh Ancel Keys dalam studinya.

Finlandia mempunyai asupan lemak lebih sedikit dari Perancis, tetapi tingkat kematian karena PJK mencapai 7 kali lipat dari Perancis. Bila data PJK dua negara ini dimasukkan oleh Ancel Keys, maka teori rendah lemak rendah PJK jadi tidak bisa dibuatkan grafiknya.

Banyak kalangan yang menyebut  ini sebagai The French Paradox.

Muncullah berbagai alasan. Yang terkenal adalah orang Perancis selalu meneguk wine. Akibat teori ini penjualan wine meningkat drastis.

Sumber : http://www.cholesterol-and-health.org.uk

Stop Blaming Saturated Fat

Judul itu sangat mengejutkan. Mengejutkan karena ditulis di majalah Mens Health. Majalah fitness yang sangat terkenal dan biasanya menganut “rendah lemak” seperti tulisan tulisan di koran dan majalah Indonesia.

Sub judulnya juga mengagetkan.

Penelitiannya sangat jelas. Karbohidrat lah, bukannya lemak yang menjadi musuh Amerika dalam memerangi penyakit jantung dan kegembrotan.

Gembrot   adalah terjemahan dari obesity, sedang gemuk adalah terjemahnan overweight.      Kini penduduk  Amerika dinyatan 60 persen kelebihan berat sedang yang   obes adalah 30%.

Majalah itu mengulas anjuran Dr Atkin agar kita banyak mengasup lemak jenuh dan mengurangi karbohidrat. Diet ini  menganjurkan asupan daging, telur, lemak dan mengurangi karbo. Apakah diet seperti ini tidak mengakibatkan sakit jantung ?

Well, no. There’s no good evidence of that.   And there’s plenty of evidence that the opposite is true–that eating more saturated fat lowers the risk for heart disease.

That’s what a recent Harvard University study found: People who had the highest saturated fat intake also had the least plaque buildup on their artery walls. The American Journal of Clinical Nutrition described the findings as an “American Paradox.”

Disebut American Paradox karena orang Amerika  justru dianjurkan untuk menjauhi lemak jenuh supaya tidak kegemukan, supaya tidak terkena sakit jantung.  Tetapi malah terbalik, semakin banyak seseorang mengasup lemak jenuh, semakin sedikit dia mendapatkan plak di arterinya.

In the Stanford University study that made recent headlines, women on the “fatty” Atkins diet ended up with the healthiest cholesterol levels and the best blood pressure readings, compared to those on other diets, notably the famous Ornish low-fat diet.

Berikut ini adalah hasil hasil  penelitian perihal lemak jenuh yang dikutip oleh Men’s Health.

  • Kita mengasup berbagai jenis lemak jenuh. Beberapa jenis tak mempunyai efek pada kolesterol. Beberapa jenis menaikkan LDL, kolesterol jelek, namun semuanya  menaikkan HDL, kolesterol baik, dengan jumlah yang lebih tinggi. Akibatnya sangat menguntungkan dari segi kesehatan jantung.
  • Organisasi kesehatan nasional yang top di Amerika , sudah puluhan tahun ini menyalahkan lemak jenuh sebagai biang kerok penyakit yang berhubungan dengan jantung termasuk obesitas,diabetes,sakit jantung dan kanker. Asal muasal menyalahkan lemak jenuh sayangnya berawal dari penelitian yang tidak tuntas. Penelitian tahun 1953, menunjuk pada data 6 negara yang asupan lemaknya tinggi terbukti kematian karena sakit jantungnya juga tinggi. Namun penelitian itu cacat karena tidak memasukkan data 16 negara yang lain yang saat itu datanya juga ada. Bila data 16 negara lsinnys dimasukkan dalam analisa, maka teori lemak berkorelasi dengan sakit jantung tidak terbukti. Perancis misalnya, asupan lemak tinggi tetapi penyakit jantungjya rendah. Suku primitip di Afrika, suku Masai, suku di Kanada asupan lemaknya sangat tinggi tetapi sakit jantung tak dikenal.
  • Sejak tahun 1970, bangsa Amerika berhasil menurunkan asupan lemak jenuh mereka sebanyak 14% dan menaikkan asupan karbo mereka sebanyak 23% – namun tingkat obesitas dan penyakit jantung malah meningkat. Kita bisa mengatakan karbo membuat orang gemuk yang mengakibatkan sakit jantung. Dengan kata lain semakin banyak karbo yang  diasup semakin tinggi resiko  terkena serangan jantung.
  • Namun angka di atas hanyalah hubungan (sugested a cause) . Pembuktiannya harus ada percobaan yang terkendali. Sudah banyak pengujian klinis, namun tidak ada uji klinis yang bisa membuktikan bahwa mengurangi lemak jenuh bisa mengurangi resiko sakit jantung.
  • Kalau meneliti pengaruh lemak jenuh, kita juga harus meneliti karbohidrat. Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa kalau kita mengurangi karbo dan menggantinya dengan  lemak, maka tingkat trigliserida akan turun, kolesterol baiknya akan naik. Sementara kolesterol jelek akan menjadi lebih besar partikelnya, yang berarti mengurangi tingkat bahayanya.
  • Inilah paradox nya. Asupan lemak jenuh yang tinggi mengakibatkan tingkat lemak jenuh dalam darah malah turun. Bagaimana ini bisa terjadi? Inilah ceriteranya: Lemak jenuh dalam darah berasal dari dua sumber, yang satu dari makanan yang anda asup, yang satu dari liver. Semakin banyak karbo yang dimakan, semakin tinggi tingkgi insulin anda. Insulin memberi sinyal liver agar memproduksi semakin banyak lemak darah. Kalau anda kurangi karbo, tingkat insulin akan menurun, begitu juga produksi lemak darah.
  • Bonusnya, bila insulin rendah, tubuh akan terus membakar lemak  yang mengakibatkan lemak darah turun.

Sumber Men’s Health

Di sarikan oleh : HBT Sudradjat

Aku dapat email dari dokter bedah jantung terbuka yang pernah melakukan operasi lebih dari 5000 pasien selama kurun waktu 25 tahun lebih kariernya. Dr.Dwight Lundell adalah Chief Staff of dan Chief Surgery di Banner Heart Hospital, Mesa, Arizona.

Inilah isi suratnya:

Sering kali selama tahun- tahun yang kulalui ,aku tercenung saat melihat pasien dimeja operasi, kenapa orang ini harus tergeletak di sini . Kolesterolnya dalam batas normal, tidak gembrot, tidak merokok. Tak ada tanda2 faktor resiko yang bisa dihubungkan dengan penyakit jantung. Selesai ku bedah, berdasarkan statistik, dia akan kembali dalam tempo 10 tahun untuk dibedah lagi walaupun kolesterolnya normal.

Saya sampaikan dengan sedih, berdasar fakta ilmiah, kolesterol tidak ada hubungannya dengan penyakit jantung. Teori kolesterol penyakit jantung ini dimulai tahun 1948 oleh Framingham Study , studi inilah yang menjadikan kolesterol adalah jahat, walaupun sebetulnya zat yang sangat penting bagi tubuh.

Teori kolesterol penyakit jantung ini didasari penelitian keliru yang kurang fakta ilmiah yang diteruskan hingga kini, yang telah menjadikan 25% populasi harus meminum obat statin. Andai statin jawabnya, kenapa penyakit jantung ini menjadi epidemi? Fakta ini saja sebetulnya bisa menyanggah validitas pengobatan dengan statin dan kebenaran teory kolesterol jantung.

Biang masalah adalah pembengkakan, inflammation dalam pembuluh darah. Pembengkakan inilah yang menjebak kolesterol sehingga dia tidak bisa mengalir dengan bebas keseluruh tubuh. Andainya inflamasi ini yang diobati, kolesterol akan mengalir dengan lancar, pembuluh jadi sehat, jantung anda akan berjuang menjadi sembuh. Benar sekali, anda bisa sembuhkan jantung anda. Anda punya kemampuan , saya hanyalah dokter yang akan membimbing.

Sangat ironis dengan menyalahkan kolesterol maka kita dianjurkan untuk makan makanan rendah lemak, tanpa lemak, hindari makan lemak jenuh. Inilah yang malah mengakibatkan inflamasi. Makan bergula, karbohidrat sederhana, makanan olahan pabrik yang mengandung Omega 6 inilah yang menjadikan pembuluh darah bengkak.

Mungkin anda tidak tahu akan adanya pembengkakan, tetapi tekadkan ya, pada kesembuhan jantung. Ya, tentu anda punya inflamasi, seberapa besarnya bisa di test dengan C-Reactive protein yang sederhana. Sembuhkan inflamasi anda tanpa perlu obat maka anda akan melihat hasil hebat pada jantung anda dan kesehatan anda.

Dr.Dwight Lundell

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.